Indikasi proses pemulihan sudah mulai sejalan dengan perkembangan ekonomi global selama triwulan II/2009. Negara-negara maju yang terkena krisis sudah memberi tanda-tanda awal berlangsungnya stabilisasi pemulihan ekonomi.
Hal tersebut disampaikan ARDHAYADI M Deputi Gubernur Bank Indonesia di sela serah terima jabatan (Sertijab) dari WIYOTO Deputi Pimpinan Bank Indonesia Surabaya ke M ISHAK Pemimpin Bank Indonesia yang baru, di Ruang Singosari Bank Indonesia, Rabu (29/07).
Menurut ARDHAYADI, Indonesia sebagai negara emerging juga memperlihatkan penguatan seperti yang dialami China, India dan Korea Selatan. Ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi global tersebut menimbulkan sentiment positif pada pelaku pasar keuangan global sehingga mendorong peningkatan arus modal masuk ke Indonesia.
Ini, kata ARDHAYADI, berdampak positif bagi Indonesia, terlihat dari transaksi berjalan yang mengalami surplus sebesar US$ 2,2 milyar sejalan dengan perbaikan kinerja ekspor dengan menguatnya ekonomi mitra dagang. Di sisi permintaan domestik, konsumsi diperkirakan masih dapat tumbuh di atas 5% bersamaan dengan semakin rendahnya tingkat inflasi.
“Namun kegiatan investasi masih terbatas akibat lemahnya permintaan dan rendahnya tingkat utilisasi kapasitas. Dengan melihat hal tersebut, pertumbuhan ekonomi selama triwulan II/2009 diperkirakan berada dalam kisaran 3,7%-4,0%,”ujarnya.
Sejalan perkembangan dunia, tukas ARDHAYADI, tren penurunan inflasi domestik terus berlanjut. Bank Indonesia memperkirakan inflasi sepanjang tahun berpotensi dibawah 5%, antara lain, seiring dengan membaiknya ekspektasi inflasi dan terjaganya pasokan dan distribusi makanan.
Sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai batas atas kisaran 3,5%-4,0% yang akan didukung kuatnya permintaan domestik terutama konsumsi dan rendahnya inflasi.
[Sumber : www.suarasurabaya.net]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar