Jumat, 24 Februari 2012

Menuju Efisiensi Layani Pelanggan

Kondisi layanan operator telekomunikasi seringkali naik-turun. Sering terjadi ketika operator merilis layanan data dengan tarif terjangkau, tiba-tiba permintaan meningkat tajam. Tapi ada jadinya setelah itu? Pelanggan satu per satu mundur, gara-garanya akses ke internet menjadi susah terkoneksi, makin lelet, dan bahkan putus sama sekali.
Ilustrasi itu menggambarkan bahwa ARPU (average revenue per user) jadi terus turun karena pelanggan layanan data tidak bisa terpelihara dengan baik. Padahal faktanya, kini layanan data operator selular makin berkibar “Secara praktis, nirkabel bisa menjangkau lebih banyak orang.
Tetapi keberhasilan biasanya dilandasi karena budaya (culture) dan keadaan infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut,” kata Brendan Leitch, Director, Service Provider Marketing, Juniper Networks Asia Pasific kepada Selular Mei lalu di Jakarta. Menurutnya, Jepang dan Hongkong adalah contoh tepat kultur banyak orang mendiami satu area tertentu membuat layanan data selular menjadi marak.
Penurunan pendapatan bagi operator selular, kata Brendan, pernah terjadi pula di operator kabel. “Satu-satunya jalan operator harus melakukan efisiensi di sisi backhaul –perangkat yang menghubungkan node 3G dengan BSC (base station controller) menggunakan solusi IP (internet protocol),” kata Brendan. Dengan solusi backhaul berbasis IP ini, operator tidak perlu lagi merogoh kocek lebih dalam dengan membuat backhaul berbeda untuk layanan 2G, 3G, atau bahkan 4G sehingga mesti meningkatkan kapasitas jaringannya.
Dengan backhaul berbasis IP, hanya perlu satu koneksi untuk satu backhaul yang menghubungkan BTS, 3G node, atau 4G node ke BSC. Merujuk riset dari Infonetics mengenai perkiraan pangsa pasar perangkat Mobile Backhaul Equipment dunia pada 2007, operator selular mengivestasikan US$ 4,5 miliar pada 2007 hanya untuk backhaul. Nilai ini akan meningkat menjadi US$ 8,2 milyar pada 2010.
Karena itu penting bagi operator selular untuk meramu jurus investasi yang lebih efisien tapi menghasilkan pendapatan dari sektor data yang lebih baik. Menurut Brendan, cost-effectiveness operator di sisi operator tentu akan membawa harga data juga bakal lebih murah. “Konsumen pun punya peluang dapat tarif lebih terjangkau,” ungkapnya.
Untuk pemakaian backhaul berbasis IP itu, Brendan menunjuk keberhasilan T-Mobile Jerman yang akses jaringannya meningkat 400% sejak digunakannya backhaul tersebut. (lihat tabel). Peningkatan akses data HSPA menunjukkan karakteristik meningkat lebih besar dibandingkan peningkatan akses lewat jaringan 2G.
Bagi operator, penggunaan perangkat yang memungkinkan efisiensi bisa dilakukan tentu akan berdampak pada penurunan nilai investasi keseluruhan. Kalau ini terjadi tentu berita baik bagi konsumen. Tak perlu risau soal koneksi data ke internet akan macet –karena sudah menggunakan IP backhaul-, sementara tarifnya pun mungkin bisa makin terjangkau.



sumber : selular.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar